Translate

Selasa, 08 Mei 2012

Cara Penetapan Kadar Glukosa Darah


Teori
Glukosa adalah salah satu monosakarida terpenting yang digunakan sebagai sumber energi bagi makhluk hidup khususnya manusia. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan.
Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7.
Konsentrasi gula dalam darah diatur dengan ketat di dalam tubuh. Kadar glukosa darah normal  adalah 90 mg/100 ml darah dan setelah makan akan meningkat menjadi 130-150 mg/ 100 ml darah. Jika kadar glukosa darah kurang dari 40 mg/ 100ml darah disebut hipoglikemia, sedangkan kondisi diatas normal disebut hiperglikemia. Keseimbangan kadar glukosa darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jumlah dan jenis makanan, kecepatan digesti dan ekskresi, pola hidup, kondisi psikologis dll. Pengaturan kadar glukosa darah secara sederhana dapat diilustrasikan sebagai berikut; jika terjadi penurunan kadar glukosa darah, maka sel α pancreas akan menghasilkan glukagon yang berfungsi merangsang sel hati untuk membebaskan glukosa dan glikogen, sehingga kadar glukosa darah kembali normal. Sebaliknya, jika kadar glukosa darah tinggi, maka sel  β pancreas akan menghasilkan insulin sehingga terjadi peningkatan transport glukosa ke dalam sel dan kadar glukosa darah kembali normal.
      Faktor utama yang berperan dalam mengatur kadar glukosa darah adalah konsentrasi glukosa darah itu sendiri dan hormon, terutama insulin dan glukosa. Sewaktu kadar glukosa darah meningkat setelah makan, peningkatan konsentrasi glukosa tersebut merangsang sel B (atau b) pankreas untuk mengeluarkan insulin. Asam amino tertentu, terutama arginin dan leusin, juga merangsang pengeluaran insulin dari pankreas. Kadar glukagon, yang disekresikan oleh sel A (atau a) pankreas, dalam darah mungkin meningkat atau turun, bergantung pada isi makanan. Kadar glukagon menurun sebagai respon terhadap makanan tinggi karbohidrat, tetapi kadar glukagon meningkat sebagai respon terhadap makanan tinggi protein. Setelah makan makanan campuran khusus yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak, kadar glukagonnya relatif tetap, sedangkan kadar insulin meningkat.
Dalam uji kadar glukosa darah yang dianjurkan adalah cara enzimatik dan yang banyak digunakan adalah cara glukosa oksidase. Selain itu juga ada juga dengan cara o-toluidine. Kedua cara tersebut dianggap membarikan hasil yang mendekati kadar glukosa sesunguhnya. Kemudian cara-cara seperti nelson-somogy, ferricyanida, dan neoc roine dapat pula memberikan hasil yang setara dengan cara-cara enzimatik jika diterapkan pada autoanalyser atau alat sejenisnya. Bahan yang diuji dapat berupa darah lengkap atau hanya plasmanya saja. Jika pemeriksaan dilakukan secara enzimatik untuk mendapatkan darah lengkap tidak boleh digunakan NaF sebagai antikoagulan. Nilai-nilai yang diperoleh dengan menggunakan darah lengkap ± 15 % lebih rendah daripada plasma kecuali pada anemia.
Prinsip dalam uji menggunakan metode nelson-somogy pada dasarnya darah diproteinasi dengan metode Zn hidroksid Barium sulfat yang menghasilkan filtrat yang tidak mengandung substansi reduksi selain glukosa. Filtrate Zn barium dipanaskan dengan reagen Cu alkali, ditambah reagen pewarna arsenomolibdat. Warna yang terjadi dibandingkan dengan standar.



Alat dan Bahan
1. Alat                                                   2. Bahan
    a. Gelas Beaker                                     a. Plasma darah
    b. Tabung kufet                                     b. Aquadest
    c. Tabung sentrifuge                             c. Larutan Ba(OH)2 0,3 N
    d. Vorteks                                             d. Larutan ZnSO4 5 %
    e. Spektrofotometer                              e. Reagen arsenomolibdat
    f. Sentrifuge                                          f. Larutan glukosa standar
    g. Gelas ukur                                         g. Ragen nelson
    h. Pipet


Cara Kerja
1. Tahap Pengendapan Protein
    a. Mengambil 0,5 ml plasma darah dan menambahkan 1,5 ml aquadest, 1,5 ml Ba(OH)2 0,3 N, dan 1,5 ml ZnSO4 5% kemudian digojog
    b. Mensentrifuge larutan tersebut dengan kecepatan 3000 rpm selama 15-20 menit
    c. Mengambil supernatan yang dihasilkan untuk analisis kadar glukosa
2.  Tahap Penentuan Glukosa
    a. Membuat larutan glukosa standar 10 mg gukosa anhidrat / 100 ml (BM=180)
    b. Melakukan pengenceran sehingga diperoleh larutan glukosa dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 mg/ 100 ml larutan
    c. Menyiapkan 7 buah tabung reaksi, 5 buah tabung diisi larutan standar, 1 tabung diisi sampel, dan 1 tabung diisi larutan blanko, masing-masing sebanyak 1 ml
    d. Menambahkan reagen nelson sebanyak 1 ml ke dalam masing-masing tabung dan memanaskan pada penangas air hingga mendidih selama 20 menit
    e.Mengambil dan mendinginkan secara bersama-sama pada air dengan suhu ruang  (25oC)
    f. Menambahkan 1 ml arsenomolibdat dan 7 ml aquadest setelah semua endapan Cu2O larut sempurna kemudian di vortex
    g. Membaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm
    h. Membuat kurva standar untuk menentukan kadar glukosa





Tidak ada komentar:

Posting Komentar