TEORI.
Bahan makanan mengandung 2 komponen yaitu air dan bahan kering. Air
meskipun bukan merupakan sumber nutrien seperti bahan makanan lain, tetapi
sangat essential dalam kelangsungan
proses biokimiawi. Pertumbuhan mikroba pada bahan pangan sangat erat
hubungannya dengan jumlah kandungan air dan tidak akan pernah terjadi tanpa
adanya air. Bahan kering merupakan berat tetap suatu sampel setelah dilakukan
pemanasan pada suhu 100-105 ˚C dalam oven pengering.
Istilah
untuk air yang terdapat dalam bahan makanan adalah air terikat (bound
water). Walaupun istilah ini kurang tepat karena keterikatan air dalam
bahan berbeda-beda, bahkan ada yang tidak terikat. Karena itu istilah air
terikat dianggap sebagi suatu sistem yang mencakup air yang mempunyai derajat
keterikatan berbeda-beda dalam bahan makanan.
Air terikat
dibagi atas 4 tipe :
1. Tipe I, adalah molekul yang terikat pada
molekul-molekul lain melaaui suatu ikatan H berbenergi besar. Molekul yang
mengandung O dan N : karbohidrat, protein, garam. Tidak dapat membeku pada
pembekuan, tapi sebgaian air ini dapat dihilangkan dengan pengeringan biasa.
2. Tipe II yaitu molekul-molekul air membentuk
ikatan H dengan molekul air lain. Lebih sukar dihilangkan dan penghilangan air
mengakibatkan penurunan water activity dan pertumbuhan mikroba merusak
bahan makanan seperti reaksi browning. Jika air tipe II dihilangkan
kadar air 3-7% dan kestabilan optimum bahan tercapai.
3. Tipe III, adalah air yang secara fisik terikat
dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat, dll. Disebut juga
air bebas.Mudah diuapkan dan dapat untuk pertumbuhan mikroba.Bila diuapkan maka
kadar airnya 12-25%.
4. Tipe IV, adalah air yang tidak terikat dalan
jaringna suatu bahan atau air murni dengan sifat-sifat air biasa dan keaktifan
penuh.
Air yang terbentuk dalam bentuk bebas dapat membantu terjadinya proses
perusakan bahan makanan misalnya proses mikrobiologis, kimiawi, enzimatik
bahkan oleh aktivitas serangga perusak. Sedangkan air dalam bentuk lainnnya
tidak memebantu terjadinya proses perusakan kimiawi diatas. Oleh karenanya
kadar air bukan merupakan parameter yang mutlak untuk dipakai dalam menentukan
kecepatan terjadinya kerusakan bahan
makanan.
Air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap seluruhnya apabila bahan
tersebut dipanaskan pada suhu 105oC selama waktu tertentu. Perbedaan
antara berat bahan sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar airnya.
Penentuan kadar
air dalam suatu bahan dapat dilakukan dengan berbagai cara antar lain :
1. Penentuan kadar air
cara pengeringan (Thermogravimetri)
Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan
dengan cara pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan yang
berarti semua air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah, namun
terdapat beberapa kelemahan pada cara ini antara lain
a) Bahan lain selain air
juga ikut menguap dan ikut hilang bersamaan dengan uap air misalnya alkhohol, asam asetat, minyak atsiri dan
lain-lain
b) Dapat terjadi reaksi
selama pemanasan yang menghasilkan air
atau zat mudah menghilang lainnya. Contoh : gula
mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi dan
sebagainya.
c) Bahan yang mengandung bahan yang kuat mengikat
air secara kuat sangat sulit melepasakan airnya walaupun sudah dipanaskan.
Untuk
mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi yang menyebabkan
terbentuknya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan maka dapat dilakukan
pemanasan dengan suhu rendah dan tekanan vakum. Dengan demikian akan diperoleh
hasil yang lebih mencerminkan kadar air yang sebenarnya.
Suatu
bahan yang telah mengalami pengeringan ternyata lebih bersifat higroskopis
daripada bahan asalnya. Oleh karena itu selama pendinginan sebelum penimbangan,
bahan selalu ditempatkan dalam ruang tertutup yang kering misalnya dalam
eksikator atau desikator yang telah diberi zat penyerap air. Penyerap air ini
dapat menggunakan kapur aktif, asam sulfat, silica gel, aluminium oksida,
kalium klorida, kalium hidroksida, kalsium sulfat atau barium oksida.
2. Penentuan kadar air
cara destilasi (Thermovolumetri)
Prinsip
penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan pembawa
cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak
campur dengan air..
Di samping
cara-cara fisik ada pula cara kimia untuk menentukan kadar air. Mc Neil megukur
kadar air berdasarkan volume gas asetilen yang dihasilkan dari reaksi kalsium
karbida dengan bahan yang akan diperiksa.Cara ini dipergunakan untuk
bahan-bahan seperti sabun, tepung, kulit, bubuk biji panili, mentega, dan sari
buah. Karl Fischer pada tahun 1935 menggunakan cara pengeringan berdasarkan
reaksi kimia air dengan titrasi langsung dari bahan basah dengan larutan
iodium, sulfurdioksida, dan pirimidin dalam methanol. Perubahan warna
menunjukkan titik akhir titrasi.
1. Alat 2. Bahan
a. Cawan
(crusible) porselin dengan tutup a. Kacang tanah
b. Desikator b. Kacang merah
c. Tang
penjepit c. Kacang hijau
d. Oven pengering d. Keju
e. Timbangan
analitik e. Susu
Cara Kerja:
1. Mengeringkan
cawan porselin yang sudah dibersihkan didalam oven pengering pada suhu 105oC
selama 1 jam dengan tutup dilepas
2. Mengambil
cawan porselin dengan menggunakan tang penjepit dan mendinginkan di dalam
desikator dengan tutup dilepas selama 1 jam
3. Setelah
dingin, menimbang cawan porselin dalam keadaan tertutup (ms)
4. Menimbang
sampel ± 2 gr dengan menggunakan cawan porselin (ms1) dan
dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 105oC selama 8 jam atau
sampai beratnya tetap dengan tutup dilepas
5. Dengan
menggunakan tang penjepit cawan porselin ditutup, kemudian mendinginkan dalam
desikator selama 30 menit dengan tutup dilepas. Setelah dingin cawan porselin
ditutup kembali dan ditimbang (ms2)
6. Memasukkan
data tersebut dalam tabel dan menghitung kadar airnya dengan rumus:
Kadar air (%) = ms1 - ms2 x 100%
ms1 - ms