Teori
Glukosa adalah salah
satu monosakarida terpenting yang digunakan sebagai sumber energi bagi makhluk hidup khususnya manusia. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri
pangan.
Glukosa (C6H12O6,
berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom
karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk
cincin yang disebut "cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk
aldosa berkabon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping
hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon
keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada
dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026%
pada pH 7.
Konsentrasi
gula dalam darah diatur dengan ketat di
dalam tubuh. Kadar glukosa darah normal
adalah 90 mg/100 ml darah dan setelah makan akan meningkat menjadi
130-150 mg/ 100 ml darah. Jika kadar glukosa darah kurang dari 40 mg/ 100ml
darah disebut hipoglikemia,
sedangkan kondisi diatas normal disebut hiperglikemia.
Keseimbangan kadar glukosa darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
jumlah dan jenis makanan, kecepatan digesti dan ekskresi, pola hidup, kondisi
psikologis dll. Pengaturan kadar glukosa darah secara sederhana dapat
diilustrasikan sebagai berikut; jika terjadi penurunan kadar glukosa darah, maka
sel α pancreas akan menghasilkan glukagon yang berfungsi merangsang sel hati
untuk membebaskan glukosa dan glikogen, sehingga kadar glukosa darah kembali
normal. Sebaliknya, jika kadar glukosa darah tinggi, maka sel β pancreas akan menghasilkan insulin sehingga
terjadi peningkatan transport glukosa ke dalam sel dan kadar glukosa darah
kembali normal.
Faktor utama yang
berperan dalam mengatur kadar glukosa darah adalah konsentrasi glukosa darah
itu sendiri dan hormon, terutama insulin dan glukosa. Sewaktu kadar glukosa
darah meningkat setelah makan, peningkatan konsentrasi glukosa tersebut
merangsang sel B (atau b)
pankreas untuk mengeluarkan insulin. Asam amino tertentu, terutama arginin dan
leusin, juga merangsang pengeluaran insulin dari pankreas. Kadar glukagon, yang
disekresikan oleh sel A (atau a)
pankreas, dalam darah mungkin meningkat atau turun, bergantung pada isi
makanan. Kadar glukagon menurun sebagai respon terhadap makanan tinggi
karbohidrat, tetapi kadar glukagon meningkat sebagai respon terhadap makanan
tinggi protein. Setelah makan makanan campuran khusus yang mengandung
karbohidrat, protein, dan lemak, kadar glukagonnya relatif tetap, sedangkan
kadar insulin meningkat.
Dalam uji kadar glukosa darah yang
dianjurkan adalah cara enzimatik dan yang banyak digunakan adalah cara glukosa
oksidase. Selain itu juga ada juga dengan cara o-toluidine. Kedua cara tersebut
dianggap membarikan hasil yang mendekati kadar glukosa sesunguhnya. Kemudian
cara-cara seperti nelson-somogy, ferricyanida, dan neoc roine dapat pula
memberikan hasil yang setara dengan cara-cara enzimatik jika diterapkan pada
autoanalyser atau alat sejenisnya. Bahan yang diuji dapat berupa darah lengkap
atau hanya plasmanya saja. Jika pemeriksaan dilakukan secara enzimatik untuk
mendapatkan darah lengkap tidak boleh digunakan NaF sebagai antikoagulan.
Nilai-nilai yang diperoleh dengan menggunakan darah lengkap ± 15 % lebih rendah
daripada plasma kecuali pada anemia.
Prinsip dalam uji
menggunakan metode nelson-somogy pada dasarnya darah diproteinasi dengan metode
Zn hidroksid Barium sulfat yang menghasilkan filtrat yang tidak mengandung
substansi reduksi selain glukosa. Filtrate Zn barium
dipanaskan dengan reagen Cu alkali, ditambah reagen pewarna arsenomolibdat.
Warna yang terjadi dibandingkan dengan standar.
Alat
dan Bahan
1. Alat 2. Bahan
a. Gelas Beaker a.
Plasma darah
b. Tabung kufet b. Aquadest
c. Tabung sentrifuge c. Larutan Ba(OH)2
0,3 N
d. Vorteks d. Larutan ZnSO4
5 %
e. Spektrofotometer e. Reagen arsenomolibdat
f. Sentrifuge f. Larutan glukosa standar
g. Gelas ukur g. Ragen nelson
h. Pipet
Cara Kerja
1. Tahap Pengendapan Protein
a. Mengambil
0,5 ml plasma darah dan menambahkan 1,5 ml aquadest, 1,5 ml Ba(OH)2
0,3 N, dan 1,5 ml ZnSO4 5% kemudian digojog
b. Mensentrifuge
larutan tersebut dengan kecepatan 3000 rpm selama 15-20 menit
c. Mengambil
supernatan yang dihasilkan untuk analisis kadar glukosa
2. Tahap Penentuan Glukosa
a. Membuat
larutan glukosa standar 10 mg gukosa anhidrat / 100 ml (BM=180)
b. Melakukan
pengenceran sehingga diperoleh larutan glukosa dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8,
10 mg/ 100 ml larutan
c. Menyiapkan
7 buah tabung reaksi, 5 buah tabung diisi larutan standar, 1 tabung diisi
sampel, dan 1 tabung diisi larutan blanko, masing-masing sebanyak 1 ml
d. Menambahkan
reagen nelson sebanyak 1 ml ke dalam masing-masing tabung dan memanaskan pada
penangas air hingga mendidih selama 20 menit
e.Mengambil
dan mendinginkan secara bersama-sama pada air dengan suhu ruang (25oC)
f. Menambahkan
1 ml arsenomolibdat dan 7 ml aquadest setelah semua endapan Cu2O
larut sempurna kemudian di vortex
g. Membaca
pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm
h. Membuat
kurva standar untuk menentukan kadar glukosa